Ternyata dia Istimewa



Hujan-hujan gini enaknya ngapain ya? tidur? makan? mandi? ah terlalu mainstream. Mending baca cerpenku sajalahh.. *ceilah cerpenku* wkwkx)) Selamat membaca;)


Ternyata Dia Istimewa
Untuk Marsha,
            Aku ingat senyum yang selalu menghiasi hari-harimu. Aku ingat binar matamu yang selalu menatapku.Aku ingat lesung pipi yang selalu muncul saat kau tersenyum. Aku ingat saat pertama kau masuk ke sekolah ini. Aku ingat saat kau menjerit ketakutan saat aku mengerjaimu. Aku ingat saat kita berjuang bersama melawan maut itu. Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih hanya itu yang dapat aku ucapkan untukmu. Andai waktu bisa terulang kembali aku ingin kau menjadi kekasihku.
            Aku membuka mataku dan melihat jam yang ada tepat di atas tempat tidurku, jam sudah menunjukkan pukul 06.00. waktunya bersiap-siap untuk sekolah. aku diantar oleh Pak Jum yang bekerja sebagai sopir di rumahku. Setelah sampai di sekolah aku langsung duduk di tempat dudukku dan langsung membaca novel yang semalam belum sempat aku selesaikan. Bel masuk pun berbunyi, Bu Isa datang dengan seorang cewe berambut hitam kental, aku tak terlalu suka dengan anak baru.
   “Anak-anak kita kedatangan murid baru.” Kata Bu Isa ramah.
   “Hai, namaku Marshalinna Kinara Cintami, kalian bisa memanggilku Marsha.aku pindahan dari Padang aku dulu bersekolah di SMP Negeri Siantar 6, aku berharap kalian bisa menerimaku.”Kata Marsha dengan raut muka gembira.
   “Hei, Fin lihat tuh Marsha cantik, mau gak?” tanya Abil yang duduk disampingku.
   “Ogah dah, buat lu aja.” Jawabku ketus.
   “Silahkan duduk Marsha.” Kata Bu isa
   “Terimakasih bu.” Jawab Marsha.
   “Anak-anak  sekarang ibu akan memberikan kalian tugas, tetapi karena tugas ini sangat banyak dan harus dikerjakan secara berkelompok. Tapi tenang saja ibu sudah membagi kalian menjadi 6 kelompok, satu kelompok terdiri dari 4 orang. Kelompok pertama Abil, Fino, Gisel, dan Marsha. Kelompok ke-2 Cinta, Maria, Tino, dan Ivan. Kelompok ke-3 Indra, Kiki, Agnes, dan Gilang. Kelompok ke-4 Bimo, Amanda, Bima, dan Devi. Kelompok ke-4 Nanda, Fitri, Fikri dan Gray. Kelompok ke-5 Tika, Via, Riko, dan Abda. Kelompok terakhir Nadya, Wulan, Ilham, dan Armand. Segera bergabung dengan kelompok kalian, saya mau ke kamar mandi dulu.” Kata Bi isa sambil meninggalkan kelas.
   Sial, kenapa gue harus kelompokan sama Marsha sih, Abil mah enak Gisel pacarnya, lah gua? Gawat ini kataku dalam hati.
   “Hei sob, ayo tuh Marsha sama Gisel udah nunggu, gue bilang apa lo sama Marsha tu cucok. Ayo cepat.” Kata Abil sambil menarik tanganku.
   “Hai, cewe-cewe sori ya kalau lama nunggunya. Ada something,hehe. Nah sekarang lo duduk di samping Marsha, gua duduk di samping Gisel.”  Kata Abil.
   “Ogah, lo aja sono yang duduk disamping dia.” Jawabku.
   “Gue? Ntar ada yang marah tauk, kalo gua duduk disamping Marsha, udah cepetan duduk.” Kata Abil
Dengan terpaksa aku duduk di samping Marsha, cewe itu hanya senyum-senyum sendiri saat tau aku duduk di sampingnya. Ini cewe kenapa sih? Gila kali ya? Dari tadi nyengar-nyengir, gak waras dia. Kataku dalam hati. Saat tugas sudah dibagikan pun Marsha masih senyum-senyum sendiri seperti gila. Aku merasa kalau dia menyukaiku. Aduh,kalau Marsha suka sama aku dia bakalan patah hati. Gawat ini. Kataku dalam hati. Sudah satu bulan Marsha sekolah di sekolah ini, dia pun semakin membuatku jengkel kalau kata orang jawa “mangkel”. Sebenarnya Marsha cantik, pintar dan baik tapi entah mengapa aku jengkel jika dia ada di hadapanku, dan jika dia menatapku rasanya matanya kalo kata orang jawa “pengen tak culek”. Dia pun menghalalkan segala cara agar dia bisa menjadi pacarku, aku “eneg” dan ilfiell sama Marsha. Kenapa sih, semua cewe-cewe di sekolah ini banyak yang suka gua? Perasaan gua biasa aja deh, gak waras mereka. Kataku dalam hati
            Aku dibelikan papaku sebuah topi yang ber-merk terkenal dan berharga yang sangat mahal, aku pun memamerkan topi-ku kepada teman-temanku termasuk Marsha. Tapi Marsha hanya diam dan wajahnya tanpa ekspresi. Hal itu membuatku tambah jengkel dengan Marsha. Pak Atok masuk dan memberikan pelajaran yang ku sukai. Tiba-tiba ada gempa yang mengguncang daerahku aku tak sempat berlari, aku kira aku akan mati saat itu juga, saat aku sudah putus asa tiba-tiba aku melihat sseorang cewe cantik datang dan membantuku keluar dari bebatuan yang menimbunku, ternyata dia adalah Marsha orang yang selama ini aku benci. Walaupun dia sudah berlumuran darah dia masih mau menolongku. Aku sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi, udara di tempat itu pengap dan tak ada cahaya.
   “Sha, tinggalin gue aja lo mending keluar dari tempat ini dan selametin diri lo sendiri.”Kataku sambil menahan rasa sakit.
   “Enggak Fin, kita masuk ke kelas ini bareng-bareng kita juga harus keluar bareng-bareng, gue enggak bakal ninggalin lo sendiri. Ayo tinggal beberapa langkah lagi. Semangat Fin.” Kata Marsha menyemangatiku.
  “ Gue udah gak kuat jalan lagi Sha, sakit rasanya.”kataku lirih
   “Semangat Fin, kalo lo mati disini,coba deh bayangin bakal banyak orang yang kehilangan, lo juga mau ngerasain gimana rasanya pake seragam  putih abu-abu kan? Ayo dong Fin, semangat.” Kata Marsha sambil menahan air mata.
Aku pun langsung bangkit dan langsung berjalan walaupun langkahku sudah terseok-seok. Dengan penuh perhatian Marsha memapahku walaupun aku tau dia lebih merasakan rasa sakit daripada aku. Akhirnya kami melihat sepercik cahaya kami mendorong pintu itu dan pintu itupun bisa terbuka, kami selamat. Teriakan dan tangisan menyambut kami, aku sangat senang dan bahagia bisa selamat dari gempa itu.
   “Nih,topi lo yang berharga.” Kata Marsha sambil memberikan topi itu kepadaku.
   “Gue enggak nyangka lo masih mikirin topi gua, makasih Sha gue salah selama ini gue nganggep lo sebagai cewe yang nyebelin.” Kataku.
  “Okee, gpp kok.” Jawab Marsha.
Tiba-tiba Marsha jatuh pingsan, dokter langsung membawa ku dan Marsha ke rumah sakit, aku sudah sembuh dan diperbolehkan pulang.Tetapi Marsha masih terbaring dirumah sakit, dia koma. Setiap hari aku mendatanginya dan berdoa kepada Tuhan agar Marsha bisa cepat pulih dari koma-nya dan agar aku bisa meminta maaf kepada Marsha. Tuhan pun menjawab doa-ku, 2 bulan sudah marsha terbaring koma, akhirnya dia sadar juga, dia juga masih mengingatku, aku baru sadar ternyata dia sangatlah cantik. Tapi sayang dia harus dipindahkan ke rumah sakit di luar negeri karena rumah sakit di Indonesia tak ada yang bisa mengobati luka serius di kepala Marsha akibat benturan meja,dengan berat hati aku melepaskan Marsha. 10 tahun sudah berlalu dan aku belum pernah sekalipun bertemu dengan Marsha, aku tak tau apakah dia masih mengingatku,  aku pun menyusulnya ke luar negeri, ternyata Marsha sudah meninggal saat akan operasi 10 tahun yang lalu. Aku sangatlah sedih dan menyesal, akupun pergi ke makam Marsha, aku ingat betul saat dia memapahku dari tumpukan batu itu, aku ingat betul senyumannya, aku ingat betul jeritannya saat diganggu olehku. Andai waktu bisa terulang aku takkan menyia-nyiakannya. Ada 2 hal yang paling aku sesali 1 aku terlalu cepat menilai seseorang dari penampilannya, bukan dari hatinya 2 aku meyia-nyiakan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku.


Sekian cerpen dariku,semoga dapat menghibur kalian semua ya;) maaf kalo kata-katanya masih ecek-ecekan;) hihi^^ Arigatou Gozaimasu!><

(pict by pinterest.com )


Komentar

Postingan Populer